Mengenal Metode Montessori

Suatu hari Maria Montessori bekerja di sebuah rumah sakit di Roma untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Setiap hari sesudah sarapan, anak-anak itu dibawa ke aula besar yang kosong. Ia memperhatikan anak-anak tersebut berjalan ke aula sembari merogoh kantong celana, seperti sedang meremas-remas sesuatu.

Setelah diselidiki, ternyata mereka menyimpan remah-remah roti sisa sarapan. Montessori lantas menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah upaya alami anak-anak untuk menstimulus indra peraba mereka.

Hasil observasi tersebut menjadi salah satu fondasi filosofi Montessori tentang stimulus seluruh indera anak. Menurut Maria Montessori anak-anak memiliki kesempatan untuk memimpin diri mereka sendiri ketika diberi kebebasan mengekplorasi di lingkungan yang tepat. Melibatkan anak secara aktif dalam kehidupan sehari-hari dengan material konkret membuat anak-anak merasa berharga dan bermanfaat.

Maria Montessori meyakini bahwa apa pun yang dilakukan oleh anak merupakan sesuatu yang memang ia butuhkan untuk memenuhi kebutuhannya dalam masa perkembangan. Tugas kita adalah mengartikan setiap perilaku tersebut dan memanfaatkannya untuk memberi arahan yang tepat dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian, pendidik tidak serta-merta memberikan perintah, tetapi memberikan ruang bagi anak untuk menentukan pilihannya sendiri.

Di metode Montessori mengenalkan bahwa anak-anak adalah individu yang dihargai pendapat dan keinginannya. Ia diberi kebebasan untuk memilih kegiatan yang ia sukai. Meski begitu tetap ada beberapa hal terstruktur seperti jadwal yang rutin, area bermain yang terkonsep serta beberapa alat peraga pendukung metode ini.

Kapan Metode Ini Bisa Diterapkan?

Metode ini bisa diterapkan sejak bayi. Montessori membaginya dalam beberapa periode, yakni 0-3 tahun,  3-6 tahun, 6-9 tahun, 9-12 tahun, 12-15 tahun hingga 15-18 tahun. Salah seorang founder Indonesia Islamic Montessori Community, Zahra Zahira mengatakan metode Montessori bisa dimulai dulu dari Montessori by Philosophy apabila kita belum siap membeli atau membuat material Montessori sendiri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan Montessori bagi orangtua yang baru mengenalnya:

1. Mengaplikasikan filosofi independent child. Mulailah mencoba memberikan kesempatan anak untuk melakukan semuanya sendiri sesuai usianya. Usahakan untuk meminimalkan bantuan dan tidak sedikit-sedikit membantunya.
2. Mengaplikasikan filosofi order and consistency. Misal mengajak anak saat makan di tempat yang sama, main di ruangannya sendiri. Disesuaikan dengan jadwal ibu dan settingan di rumah.
3. Mencoba follow the child. Apa yang sesungguhnya anak-anak kita butuhkan? Observasi apakah ia memiliki kecenderungan kesukaan terhadap sesuatu. Misalkan menggunting, kita coba berikan aktivitas tersebut, contohkan terlebih dahulu baru anak mengikuti.

Modelling behavior adalah kunci utama mengaplikasikan Montessori, apa yang kita harapkan ke anak, kitalah yang harus mencontohkan terlebih dahulu,” ungkap Zahra. 

Di metode ini ada lima area yang menjadi fokus dalam menstimulus perkembangan anak, yakni practical life, sensorial, cultural, language dan math. Kelima ini ditreapkan dalam aktivitas pembelajaran anak. Seperti mendorong anak-anak mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari (menuang air, membersihkan lantai, membuang sampah, dll); mengenal nama-nama hewan, buah, mengneal berbagai jenis tekstur, mengenal bahasa asing serta mengenal konsep logika berpikir.

Ribuan sekolah di seluruh dunia telah menerapkan metode Montessori. Termasuk di Indonesia. Siti Rahmawati, salah seorang ibu beranak satu yang memilih pendidikan usia dini di sekolah dengan metode Montessori, mengaku merasakan manfaat yang besar bagi anaknya.

“Efek yang jelas terlihat pada Zena yakni sangat aware pada kebersihan. Sebelum makan cuci tangan, buang sampah pada tempatnya, menyapa dan menyalami orang yang dia temui,” tuturnya. Rahma menerapkan metode tersebut sejak anaknya berusia satu setengah tahun. “Saya mengajak anak melakukan kegiatan membersihkan rumah, berhitung angka, menulis, membaca, memasak dan eksplorasi mengenal lingkungan sekitar”, tuturnya.

 

 

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here