Bagaimana Menghadapi Baby Blues?

Tiba-tiba kepala saya sakit dan nafas saya sesak. Saat itu, yang terus terbayang-bayang di kepala saya hanya satu: sebentar lagi saya mati dan saya masuk neraka. Tentu saja saya menangis meraung-raung. Untung bayi saya punya pengasuh. Saya biarkan anak pertama saya yang baru berusia 3 bulan menangis kehausan di gendongan pengasuhnya. Buat apa saya urus bayi saya? Toh, nanti ketika dia besar, dia akan nakal dan saya yang akan disalahkan semua orang. Anak salah asuhan! Lalu Tuhan ikut marah. Saya masuk neraka.

Gambaran kondisi tersebut pernah dialami seorang blogger, Pungky Prayitno. Ia mengungkapkan dalam blognya keadaan saat depresi pasca melahirkan. Awalnya ia mengabaikan apa yang dialaminya. Menangis sepanjang malam, merasa terus kelelahan pasca melahirkan, khawatir berlebihan dan sedikit-sedikit merasa cemas.

Baby Blues dan Tanda-tandanya

Apa yang dialami Pungky tersebut dikenal dengan baby blues. Sebuah kondisi pasca melahirkan karena adanya perubahan hormon pada ibu saat hamil dan melahirkan. Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Thurgood, Avery dan Williamson (2009) di Kanada, Jerman, Belanda, dan Irlandia dengan subjek wanita rentang usia 32-45 tahun menunjukkan bahwa sekitar 75% mengalami stress pasca melahirkan.

Tanda stress pasca melahirkan pada mereka yaitu perasaan sedih, kecewa, marah pada diri sendiri, cemas, ketakutan berlebihan tidak bisa menyusui, ketakutan akan kehilangan pekerjaan, dan sebagainya. Hasil penelitian ini juga menyebutkan ibuibu yang mengalami stress pasca melahirkan berlanjut sampai minggu ke-4 bahkan minggu ke-12.

Jangan dibiarkan Menjadi PPD (Post Partum Depression)

Kondisi yang diabaikan dan berlarut-larut tanpa ada penagananan khusus tersebut akan memicu Ibu mengarah pada depresi pasca melahirkan atau dikenal dengan post partum depression (PPD). Sang Ibu tak hanya merasa sedih berkepanjangan namun juga bisa mengalami kondisi yang parah seperrti mengalami halusinasi atau menyakiti diri dan bayi sendiri.

Selain sebab hormon, Ibu yang mengalami PPD disebabkan oleh beberpa hal, seperti perubahan fisik dan keseharian yang drastis, ekspektasi yang jauh dengan realita, misalnya tidak lahiran spontan, ASI yang seret, dsb serta kurangnya dukungan dari keluarga, pasangan atau lingkungan sekitar.

Minta Bantuan

Jika bunda mengalaminya, jangan diabaikan ya! Mintalah bantuan keluarga, atau orang terdekat seperti suami. Bunda bisa jujur pada diri sendiri tentang segala kegelisahan tersebut.

Mengakui dan menerima peran baru sebagai ibu bisa menjadi jalan pembuka untuk sembuh dari kondisi tersebut. Kerapkali para bunda ingin menyelesaikan semua hal dengan sempurna. Padahal jelas kita sedang dalam kondisi kelelahan. Jika memang membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk meminta segera.

Bertemu dan ngobrol dengan sesama ibu juga bisa menjadi salah satu jalan agar beban tersebut terasa lebih ringan. Tak ada salahnya mengomunikasikan hal ini pada suami. Atau bergabung dengan beberapa komunitas sesama ibu. Sebab sesuatu yang membawa aura negatif bila dipendam terlalu lama akan membawa dampak negatif pula.

Me Time

Adakalanya peran baru sebagi ibu menyita waktu seharian untuk anak. Terkadang merasa tak ada waktu untuk sendiri meski itu hanya sekadar mandi. Nah, bunda bisa menyiasatinya dengan melakukan me time. Tak perlu muluk-muluk, sesederhana bisa mandi dengan tenang tanpan teriakan. Ketika si kecil tidur segera luangkan waktu untuk luluran. Atau minta bantuan pasangan untuk bergantian momong anak.

Dukungan Lingkungan Sekitar

Selain diri sendiri, dukungan lingkungan dari keluarga maupun masyarakat juga perlu. Namun adakalanya kita tidak bisa mengatur mereka seperti yang kita inginkan. Kalaupun mentok bunda dan pasangan tidak perlu sungkan meminta bantuan ke konselor maupun psikolog atas apa yang bunda alami.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here