Maylia Erna Sutarto, Tularkan Semangat Literasi Sejak Dini

Masih rendahnya minat membaca pada masyarakat Indonesia, khususnya pada anak-anak, mendorong Maylia Erna Sutarto menularkan virus hobi membaca dan menulis. Mengingat, hidup di era teknologi semakin mengikiskan rasa cinta anak-anak pada membaca dan menulis.

Mereka lebih memilih untuk asyik dengan gadget. Untuk itu, Maylia, sapaan akrabnya, mendirikan sebuah lembaga menulis yakni Indonesia Writing Edu Center (IWEC).

IWEC sendiri telah berdiri sejak 2014 lalu. Lembaga tersebut mendidik anak-anak hingga dewasa untuk menulis sekaligus mencetak hasil karya mereka. Ada dua jenis program yang dijalankan di lembaga tulis menulis itu, yakni kelas menulis serta kelas komik.

“Keduanya sama-sama diajarkan mengenai penyampaian cerita dengan mempelajari tentang teknik menulis cerita,” ujar Ibu dari tiga anak tersebut. Perbedaannya, ada pada deskripsi narasi.

Di kelas komik, deskripsinya terletak di gambar dengan beberapa narasi singkat dan dialog pada tiap-tiap panel gambar. Sementara, di kelas menulis cerpen deskripsinya terletak pada kekuatan bahasa tulisan.

Pengelompokkan kelas disesuaikan berdasarkan usia. Misalnya, ada kelas penulis anak untuk usia antara 8-11 tahun, lalu penulis remaja (12-16 tahun) dan kelas penulis dewasa (17 tahun ke atas).

Sementara, untuk kelas komik diperuntukkan bagi anak-anak dan kelas remaja. “Kami sudah berjalan lebih kurang 2,5 tahun. Sudah melalui sekitar 8 periode angkatan,” ungkap Maylia.

Setiap angkatan, selalu memiliki karya untuk diterbitkan dan dikomersialkan untuk umum. Hingga kini, IWEC telah meluluskan 80 siswa dan menelurkan beberapa karya tulis anak-anak. “Jenis kelas kami adalah small class (4-6 siswa/kelas). Sehingga proses pembelajaran lebih kondusif dan siswa dapat kami pantau secara personal kebutuhannya,” terang lulusan akuntansi Universitas Airlangga Surabaya tersebut.

Hadirnya IWEC tak lepas dari mimpi Maylia sejak kecil. Membaca dan menulis adalah dua hobi yang tak terpisahkan sejak masa kanaknya. “Sejak SD saya sangat suka menulis cerita pendek dan puisi. Hingga saya sering dikirim sekolah untuk mengikuti kompetisi membaca puisi,” kenangnya.

Berlanjut ke jenjang SMA, Maylia juga kerap menulis artikel dengan mengikuti program jurnalis pelajar di sebuah harian sore di Surabaya saat itu.

Hobi menulis itu sempat mandek saat ia menginjak jenjang perkuliahan. “Ketika kuliah saya hanya sesekali saja menulis cerpen untuk dikirim ke majalah remaja atau hanya saya simpan sendiri. Karena kesibukan kuliah dan ingin konsen dengan kelulusan,” tuturnya. Bahkan, sejak ia bekerja hobi yang amat disukainya itu sempat terkubur sama sekali.

Bakat dan hobi yang sempat terkubur lama itu lantas menguar kembali saat Maylia menjadi seorang full time mother untuk anak-anaknya. Sejak  anak pertamanya lahir, Maylia selalu membacakan buku untuknya. “Lalu pada usianya yang 4 tahun saya sudah menanamkan kebiasaan menulis,” ujarnya.

Menurut perempuan kelahiran Surabaya, 14 Mei 1979 tersebut, menulis adalah tingkatan dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia. “Karena menulis adalah menanamkan cara memandang masalah, cara berpkir, dan menuangkan jalan keluar secara runtut,” tegasnya.

Dia melanjutkan, menulis sebagai salah satu cabang linguistik adalah kanal komunikasi yang sering diabaikan oleh banyak orang sehingga banyak hal tidak dapat disampaikan secara baik dan dengan bahasa yang baik pula dalam bentuk tulisan.

“Dari pengalaman yang saya jalani bersama anak-anak saya, dari keprihatinan saya kepada kemampuan linguistik terutama menulis dan membaca di kalangan anak-anak Indonesia yang sangat jauh dari negara- negara lain terutama ASEAN sebagai rumpun  yang sama, saya berpikir, jika anak-anak saya mampu saya bimbing dan berhasil, maka apa yang saya lakukan juga bisa diserap oleh anak-anak yang lain,” tuturnya.

Maylia menegaskan, menulis bukan dimulai dari bakat. Dia menuturkan, menulis adalah kemampuan dan kecerdasan  dasar yang dimiliki oleh setiap manusia, dapat diasup dengan baik selama setiap individu komitmen dan konsisten untuk belajar dan terus melakukannya.

“Pentingnya berbahasa terutama dalam hal menulis sangat dibutuhkan sampai kapanpun. Keduanya (membaca dan menulis) memiliki asosiasi yang sangat kuat,” katanya.

Kini, kedua hal itu masih konsisten dilakoni Maylia. Dia mengaku sedang menulis beberapa cerpen serta novel pendek untuk project pribadi. “Saya juga mndampingi anak pertama dan kedua untuk merampungkan project novel mereka masing-masing,” tuturnya.

Maylia berharap, melalui gagasan lembaganya dapat terus memahamkan kepada masyarakat bahwa  membaca dan menulis itu penting terutama untuk anak-anak. “Menulis mengajarkan anak lebih peka pada lingkungan. Mereka melakukan riset, observasi, dan menyampaikan ide secara runtut dan rapi,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here