Mengapa Bertelanjang Kaki Lebih Baik untuk Anak-Anak?

Jangan dilepas sepatunya nanti kotor! Seruan ini kerap kali bunda lontarkan kepada si kecil saat bermain di luar rumah. Banyaknya kotoran atau tertusuknya benda-benda tajam menjadi alasan untuk melarang anak berjalan nyeker.

Padahal tahukah bunda sebenarnya berjalan tanpa alas kaki lebih baik untuk anak-anak apalagi bayi. Memakai alas kaki di usia yang masih sangat muda dapat mempengaruhi dan menghambat perkembangan berjalan pada anak.

Menurut Tracy Byrne, seorang ahli podiatri dari Inggris mengatakan berjalan tanpa alas kaki dapat merangsang dan mengembangkan otot ligamen kaki menjadi lebih kuat. “Membiarkan mereka berjalan tanpa alas kaki dapat meningkatkan kesadaran anak terhadap lingkungan sekitar,” ungkap Tracy seperti dilansir The Guardian. Dia menambahkan, berjalan tanpa alas kaki untuk anak-anak membuat postur tubuh lebih baik sebab mereka berjalan secara alami.

Byrne sendiri menerapkan hal tersebut kepada kedua anaknya, yakni membiarkan mereka bergerak tanpa alas kaki sejak masih bayi. “Semakin banyak orang tua yang mengetahui struktur kaki anak-anak maka akan semakin dini dalam mencegah cedera anak pada penggunaan alas kaki,” tuturnya.

Berdasarkan riset pada jurnal podiatri The Foot yang dipublikasikan pada 2007, tercatat bahwa terdapat perubahan struktur dan fungsi pada kaki akibat bentuk sepatu yang terlalu ketat. Hal ini tidak memberikan kesempatan pada kaki untuk tumbuh alami dan sesuai. Menurut penelitian tersebut semakin muda menggunakan sepatu/sandal maka akan semakin besar potensi kelainan pada struktur kaki.

Menurut para ahli, kaki bayi baru lahir sangat berbeda jauh dengan milik dewasa. Faktanya, kaki bayi belum memiliki tulang yang kuat dan terdiri dari rangkaian tulang rawan. Seiring berjalannya waktu tulang rawan tersebut baru akan berkembang dan mengeras menjadi 28 tulang seperti kaki dewasa. Proses ini tidak akan komplit hingga anak berusia belasan tahun.

“Seharusnya sepatu anak-anak diproduksi sesuai dengan lisensi batasan kesehatan dari pemerintah,” ujar Byrne. Menurutnya sepatu anak-anak yang beredaran di pasaran belum memenuhi standar sepatu yang aman. “Terlalu kaku, tidak lentur di bagian tumit bahkan terkadang memiliki heels di bagian tumit. Jelas ini berbahaya,” katanya.

Mike O’Neill, seorang konsultan podiatris (ahli penyakit kaki) dan juru bicara untuk Society of Chiropodists and Podiatrists, percaya bahwa masih banyak orang tua yang memakaikan sepatu kepada buah hati mereka hanya sebagai asesoris dan demi gaya semata, tidak memerhatikan secara fungsi serta keergonomisannya.

Byrne menyetujui hal tersebut. Menurutnya tidak hanya orang tua yang berperan penting dalam hal ini tetapi juga perusahaan yang memproduksi alas kaki. “Keduanya memiliki tanggungjawab. Orang tua kerap melihat sepatu yang dijual secara diskon entah jenis high heel khusus anak-anak, crawler (sepatu khusus bayi yang belum bisa berjalan) atau sepatu flat kurang memerhatikan elastis tidaknya tapak sepatu tersebut. Mereka mengira “jika ini dipajang di rak etalase oh berarti ini bagus dong untuk anak-anak”.

Menurut Byrne produksi sepatu khusus bayi sama saja dengan membuang-buang uang. Bayi biasa melewati fase merayap/merangkak. Fase ini salah satu fase yang harus dikuasai. “Tapi jelas ini akan sulit jika bayimu menggunakan ‘crawler’,“. Fase merangkak dapat merangsang otak  untuk mengembangkan keseimbangan penglihatan. “Anak-anak yang melewati masa ini kemungkinan besar akan mengalami kesulitan belajar membaca dan menulis di kemudian hari. Dan anak-anak yang sedang dalam fase tersebut akan mengalami kesulitan jika menggunakan sepatu/sandal.

 

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here