5 Gangguan Pada Bayi Baru Lahir dan Cara Mengatasinya

Bayi yang baru lahir kerap mengalami gangguan. Hal ini disebabkan mereka masih melakukan adaptasi dengan dunia luar saat bayi dilahirkan. Ada beberapa gangguan yang kerap terjadi pada bayi yang baru lahir. Yuk, bunda kenali gejala dan cara mengatasinya!

1. Demam

Sebenarnya demam bukanlah penyakit, melainkan “alarm” untuk menunjukkan sesuatu terjadi pada tubuh bayi. Demam dapat dipicu oleh banyak hal misalnya infeksi virus atau bakteri, kelelahan, aktivitas berlebihan, kurang minum, suntikan pasca imunisasi atau bahkan terlalu banyak stimulasi.

Meski demam bukan masuk penyakit, namun bunda tetap perlu waspada, ya. Apalagi jika demam sang bayi disertai dengan tidak nafsu menyusu, terlihat lesu dan dehidrasi bahkan terlihat kejang-kejang dan terjadi sesak napas. Jika sudah begitu segera ukur suhu tubuh bayi. Bila demamnya kurang dari 37,5°C, maka tidak perlu dikompres. Penurun panas hanya diberikan saat suhu tubuh bayi mencapai 38°C.

Jadi, saat suhu tubuh kurang dari 38°C, bunda cukup memberikan ASI sesering mungkin. Selain itu lakukan skin to skin setiap saat. Saat seperti ini bayi membutuhkan banyak pelukan dari sang bunda.

2. Kolik

Kolik merupakan situasi saat bayi menangis secara terus menerus dan berlebihan. Biasanya kolik terjadi saat baru lahir hingga usia 4 bulan. Bayi bisa menangis selama lebih dari 3 jam sehari dan paling sedikit 4 hari dalam seminggu. Tandanya juga dapat diamati saat tangan bayi mengepal, kaki yang ditarik ke arah perut, kepala bergerak-gerak, wajah kemerahan dan biasanya disertai buang angin.

Hingga saat ini para ahli medis belum mengetahui secara pasti penyebab dari kolik. Kolik juga jarang dianggap sebagai gangguan kesehatan dan sering tidak terdiagnosis. Tapi, pada umumnya kolik kerap dihubungkan dengan gangguan sistem pencernaan bayi yang belum sempurna.

Bagaimana mengatasi bayi yang sedang kolik? Sesungguhnya sampai sekarang belum ada obat yang pas untuk menyembuhkan kolik. Namun, bunda bisa menenangkan bayi yang kolik dengan menggendongnya sambil mengelus-elus punggungnya agar bersendawa. Bila perlu mandikan ia dengan air hangat dan pijat lembut perutnya. Jika kulitnya terasa dingin, sgeera kenakan bayi dengan sarung tangan, kaus kai dan selimut. Semangat, ya bunda!

3. Ruam Popok

Kulit bayi bunda terlihat kemerahan? Terutama pada area yang tertutup popok, bokong dan paha misalnya. Bisa jadi kondisi tersebut adalah ruam popok. Yakni adanya peradangan pada kulit bayi yang tertutup popok.

Bayi yang terkena ruam popok biasanya akibat terlalu lama bersentuhan dengan tinja dan urin pada popok, sehingga menyebabkan iritasi pada kulit bayi. Selain itu, ukuran popok yang terlalu ketat dapat memicu ruam atau lecet pada kulit bayi yang masih sangat lembut. Ruam juga dapat terjadi akibat salahnya penggunaan produk seperti sabun, bedak, tisu basah atau minyak. Bisa jadi si bayi tidak cocok menggunakan produk tersebut.

Untuk itu bunda perlu memperhatikan dan menjaga agar kulit bayi tetap bersih dan kering. Selain itu, seringlah mengganti popok bayi dan bersihkan secara rutin. Bila perlu, oleskan krim pencegah ruam pada area yang sensitif.

4. Diare

Diare pada bayi salah satunya disebabkan karena virus rotavirus. Virus ini menyebabkan gangguan pada bagian dalam usus bayi sehingga nutrisi pada makanan tidak terserap secara sempurna dan mengeluarkan cairan secara berlebihan. Diare juga bisa disebabkan oleh alergi susu atau keracunan makanan bila bayi sudah makan makanan padat pertamanya.

Bunda dapat mengamati tinja bayi sejak dini untuk mencegah semakin parahnya penyakit diare. Pada umumnya tinja berwarna hijau kecoklatan pada bayi baru lahir yang mengonsumsi ASI. Jika tinja berubah menjadi lebih encer, lebih banyak, atau frekuensinya lebih sering, maka perlu diwaspadai hal itu merupakan gejala utama diare.

Diare yang berkelanjutan dapat menyebabkan bayi mengalami dehidrasi. Karena itu, Bunda perlu segera membawa bayi ke dokter. Beri bayi ASI perlahan tapi terus menerus, selama sekitar 10-30 menit.

5. Muntah

Bayi yang baru lahir pasti pernah mengalami muntah. Penyebabnya pun beragam. Misalnya, terlalu banyak udara dalam lambung, kekenyangan setelah minum ASI, sedang menderita batuk pilek dan bisa juga akibat adanya sumbatan usus. Di usia yang masih beberapa minggu, bayi memang rentan mengalami muntah. Sebab, ukuran lambungnya yang masih kecil.

Untuk mengurangi muntah pada bayi, bunda sebaiknya jangan langsung membaringkannya setelah minum ASI. Lebih baik gendong bayi dengan posisi tegak. Gendong dia sekitar setengah jam setelah menyusu agar cairan bisa turun dengan sempurna. Biasakan bayi menyusu secukupnya, namun lebih sering. Menyusu terlalu banyak dapat membuat perut bayi terlalu penuh, sehingga memicu bayi muntah setelah minum ASI.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here